3 Des 2011

KURIKULUM SUBJEK AKADEMIK



A.   Kurikulum Subjek Akademik
Kurikulum subjek akademik, merupakan model konsep kurikulum yang paling tua, sejak sekolah yang pertama dulu berdiri, kurikulumnya boleh dikatakan mirip dengan model ini. Sampai sekarang, walaupun telah berkembang model-model lain, tetapi kebanyakan sekolah tidak dapat melepaskan diri dari model ini. Kurikulum ini menekankan isi atau materi pelajaran yang bersumber dari disiplin ilmu. Penyusunannya relatif mudah, praktis, dan mudah digabungkan dengan model yang lain.
Kurikulum Subjek Akademis bersumber dari pendidikan Klasik, Perenialisme dan Esensialisme, berorientasi kepada masa lalu. Semua ilmu pengetahuan dan nilai-nilai telah ditemukan oleh para pemikir masa lalu. Fungsi pendidikan adalah memelihara dan mewariskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai budaya masa lalu kepada generasi baru. Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan. Belajar adalah berusaha menguasai isi atau materi pelajaran sebanyak-banyaknya. Orang yang berhasil dalam belajar adalah orang yang menguasai seluruh atau sebagian terbesar dari isi pendidikan yang diberikan atau disiapkan oleh guru. Isi pendidikan diambil dari disiplin-disiplin ilmu. Pelajaran IPS diambil dari disiplin Ilmu Sosial, IPA diambil dari disiplin Ilmu Kealaman, dan sebagainya. Para ahli sesuai dengan bidang disiplinnya masing-masing telah mengembangkan ilmu-ilmu tersebut secara sistematis, logis, dan solid.
Para pengembang kurikulum tidak perlu susah-susah menyusun dan mengembangkan bahan sendiri. Mereka tinggal memilih bahan-bahan materi ilmu yang telah dikembangkan oleh para ahli disiplin ilmu, kemudian mereorganisasinya secara sistematis, sesuai dengan tujuan pendidikan dan tahap perkembangan peserta didik yang akan mempelajarinya. Guru sebagai penyampai bahan ajar memegang peranan penting. Mereka harus menguasai semua pengetahuan yang menjadi isi kurikulum. Ia harus menjadi ahli atau ekspert dalam bidang-bidang studi yang diajarkannya di sekolah. Lebih jauh guru dituntut bukan saja menguasai materi pembelajaran, tetapi juga menjadi model bagi para peserta didiknya. Apa yang disampaikan dan cara penyampaiannya harus menjadi bagian dari pribadi guru. Ungkapan guru adalah yang "digugu dan ditiru” (diikuti dan dicontoh) sesuai dengan konsep ini. Karena kurikulum sangat mengutamakan pengetahuan maka pendidikannya menjadi lebih bersifat intelektual. Nama-nama mata pelajaran yang menjadi isi kurikulum hampir sama dengan nama disiplin ilmu, seperti : matematika, bahasa dan sastra, ilmu pengetahuan sosial, ilmu pengetahuan alam, sejarah, geografi, biologi, fisika, dan sebagainya.
Kurikulum Subyek Akademis tidak berarti terus tetap hanya menekankan pada materi yang disampaikan, dalam sejarah perkembangannya secara berangsur memperhatikan juga proses belajar yang dilakukan peserta didik. Proses belajar yang dipilih sangat tergantung pada segi apa yang dipentingkan dalam materi pelajaran tersebut. Jerome Bruner dalam bukunya “The Process of Education”, menyarankan bahwa disain kurikulum hendaknya didasarkan atas struktur dari disiplin ilmu. Selanjutnya ia menegaskan bahwa kurikulum suatu mata pelajaran harus didasarkan atas pemahaman yang mendasar yang dapat diperoleh dari prinsip-prinsip yang mendasarinya yang memberi struktur kepada suatu disiplin ilmu.
Beberapa kegiatan belajar memberi kemungkinan untuk mengadakan generalisasi, suatu pengetahuan dapat digunakan dalam konteks yang lain daripada hanya sekedar yang dipelajarinya, dapat merangsang ingatan apabila peserta didik diminta untuk menghubungkannya dengan masalah lain. Seorang peserta didik yang belajar fisika umpamanya, ia harus melakukan kegiatan belajar sebagaimana seorang ahli fisika melakukannya. Hal seperti itu akan dapat mempermudah proses belajar fisika bagi peserta didik.
Penekanan pada segi intelektual ini dianut oleh hampir seluruh proyek pengembangan kurikulum pada tahun 1960-an di sekolah-sekolah negara bagian Amerika Serikat. Para pengembang kurikulum pada masa itu, adalah para ahli mata pelajaran yang menyusun bahan ajaran di sekitar unsur-unsur struktural mendasar dari disiplin ilmunya, menyangkut problema, konsep-konsep inti, prinsip-prinsip, dan cara-cara bagaimana berinkuiri.


B.   Karakteristik Kurikulum sebagai Subjek Akademik
Karakteristik kurikulum sebagai subjek akademik dapat dengan mudah ditemukan pada komponen kurikulum berikut ini:
a.    Tujuan; mengembangkan pemikiran rasional, melatih peserta didik untuk melakukan penelitian, dan meningkatkan ketahanan belajar
b.    Metode; metode belajar umumnya adalah eksposisi dan inkuiri, peserta didik harus membaca hasil terbesar dalam sebuah bidang studi sehingga dapat melakukan kontak dengan pemikiran besar dimasa lalu sehingga mampu mengembangkan pemikirannya sendiri
c.    Organisasi: terdapat dua fungsi yaitu: integrasi (mengkaitkan pengalaman belajar pada beberapa mata pelajaran) dan sekuen (memastikan bahwa pengalaman belajar telah dibangun terlebih dahulu)
d.    Evaluasi: pada level kelas evaluasi beragam tergantung pada bidang studi yang berbeda

C.   Salah Satu Contoh Kurikulum Subjek Akademik
Dalam buku yang berjudul “The Process of Education” Jerome Bruner mengusulkan bahwa rancangan kurikulum didasarkan pada struktuk disiplin akademik, Ia mengusulkan bahwa  kurikulum mata pelajaran seharusnya ditentukan oleh pengertian yang paling mendasar yang dapat dicapai dari prinsip yang mendasari yang memberikan struktur pada suatu disiplin.  Sebuah contoh dari kurikulum yang didasarkan atas struktur pengetahuan adalah Man : A course of Study (MACOS).
MACOS adalah kurikulum yang dirancang oleh siswa-siswa sekolah dasar dan terdiri dari buku, film, poster, catatan permainan dan bahan ruang kelas yang lain.  Kurikulum ini menyatakan tentang manusia.
Tiga pertanyaan penting pokok menjelaskan arti permasalahan intelektual dan menunjukan anggapan MACOS : apakah arti manusia dalam hubunganya dengan kemanusiaan ? Bagaimana mereka memperoleh cara itu bagaimana mereka dapat dibuat lebih manusiawi? Pengembangan pengembangan pelajaran menghandaki anak agar kakuatan pokok yang telah membentuk dan melanjutkan untuk membentuk kemanusiaan : Bahasa, pemakaian alat, organisasi social, mythology dan  ketidak dewasaan yang berkepanjangan.
Model intelektual digunakan agar menyebabkan gagasan dapat dimengerti anak sesuai peraturan.  Anak diberikan contoh lapangan dan didorong memberikan gagasan mereka tentang binatang dan ornag dengan cara yang dilakukan oeh ahli-ahli etnologi dan ahli antropologi.  Tujuan dari MACOS adalah itelektual : memberikan anak rasa hormat dan kepercayaan akan kekuatan pikiran mereka sendiri dan memperlengkapi mereka dengan serangkaian model yang dapat dikerjakan yang membuatnya lebih mudah menganalisis hakikat lingkungan social.  Adapun model dari penilaianya meliputi : model ilmiah tentang observasi, spekulasi, pembuatan dan ujian hipotesisi, mengerti tentnag disiplin ilmu pengetahuan social dan kegembiraan penemuan.

D.   Ciri-ciri Kurikulum Subjek Akademik
Kurikulum disajikan bagian ilmu pengetahuan, mata pelajaran yang di intregasikan.Ciri-ciri ini berhubungan dengan maksud, metode, organisasi dan evaluasi.
1.      Maksud dan fungsi
Maksud kurikulum adalah melatih siswa dalam menggunakan gagasan yang paling bermanfaat dan proses menyelidiki masalah riset khusus. Fungsinya siswa diharapkan memperoleh konsep dan metode untuk melanjutkan pertumbuhan dalam masyarakat lebih luas.
2.      Metode
Adalah dengan cara :
Pameran (eksposisi), penyelidikan merupakan dua titik teknik yang secara umum digunakan dalam kurikulum akademik. 
Masalah atau gagasan dirumuskan dan diupayakan sehingga dapar dipahami mereka memeriksa pernyataan untuk menerangkan arti, landasan logika, dan dukungan factual mereka.  Buku yang telah sangat terpengaruh kehidupan besar tidak diabaikan.

3.      Organisasi
Ada 3 pola organisasi yang terpenting diantaranya :
a)    Correlated Curriculum
Kurikulum ini menekankan pentingnya hubungan antara organisasi materi atau konsep yang dipelajari dari suatu pelajaran dengan pelajaran lain, tanpa menghilangkan perbedaan esensial dari setiap mata pelajaran. Dengan menghubungkan beberapa bahan tersebut, cakupan ruang lingkup materi semakin luas. Kurikulum ini didesain berdasarkan pada konsep pedagogis dan psikologis yang dipelopori oleh Herbart dengan teori asosiasi yang menekankan pada dua hal, yaitu konsentrasi dan korelasi (Ahmad:1998,131). Misalnya Sejarah, Geografi dan Bahasa Inggris, mungkin diajarkan agar dapat memperkuat satu dengan yang lain.
b)    Unified atau Concentrated Curriculum
Sesuai dengan namanya, kurikulum jenis ini sangat kental dengan disiplin ilmu. Setiap disiplin ilmu dibangun dari berbagai macam tema pelajaran. Pola organisasi bahan dalam suatu pelajaran di susun dalam tema-tema pelajaran tertentu.Salah satu aplikasi kurikulum jenis ini terdapat pada pembelajaran yang sifatnya tematik. Misalnya konsep tentang energi, dapat dipelajaria dari sudut-sudut pandang biologi, fisika, kimia dan geologi.
c)    Integrated Curriculum
Pola organisasi kurikulum ini memperlihatkan warna disiplin ilmu. Bahan ajar diintegrasikan menjadi satu keseluruhan yang disajikan dalam bentuk satuan unit. Dalam satu unit terdapat hubungan antarpelajaran serta berbagai kegiatan siswa. Dengan keterpaduan bahan pelajaran tersebut diharapkan siswa mempunyai pemahaman suatu materi secara utuh. Oleh karena itu, inti yang diajarkan kepada siswa harus memenuhi kebutuhan hidup di lingkungan masyarakat. Misalnya matematika diajarkan untutk menyelesaikan masalah ilmu pengetahuan.




d)    Problem Solving Curriculum
Yang berisi pemecahan masalah yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan pengetahuan serta keterampilan dari berbagai disiplin ilmu. Para ahli disiplin ilmu sering memiliki sifat ambivalen terhadap evaluasi. Satu pihak melihatnya sebagai suatu kegiatan yang sangat berharga, yang dapat memberikan informasi yang dibutuhkan pada pihak lain mereka mengkhawatirkan kegiatan evaluasi dapat mempengaruhi hubungan antara guru dan siswa.

4.      Evaluasi
kurikulum subjek akademis menggunakan bentuk evaluasi yang bervariasi, namun lebih banyak digunakan bentuk uraian (essay) dari pada tes objektif.


E.   Penyesuaian Pelajaran dengan Perkembangan
Para pengembang kurikulum subjek akademis, lebih mengutamakan penyususnan bahan secara logis dan sistematis daripada menyalaraskan urutan bahan dengan kemampuan berpikir anak. Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan di atas dalam perkembangan selanjutnya dilakukan beberapa penyempurnaan. Pertama, untuk mengimbangi penekannya pada proses berfikir, mereka mulai mendorong penggunaan intuisi dan tebakan-tebakan. Kedua, adanya upaya-upaya untuk menyesuaikan pelajaran dengan perbedaan individu dan kebutuhan setempat. Ketiga, pemanfaatan fasilitas dan sumber yang ada pada masyarakat
a.    Penentuan tema-tema yang membentuk satu kesatuan (unifying theme). Unifying theme dapat terdiri atas ide atau konsep besar yang dapat mencakup semua ilmu atau suatu proses kerja ilmu, fenomena alam, atau masalah sosial yang membutuhkan pemecahan secara ilmiah.
b.    Menyatukan kegiatan belajar dari beberapa macam disiplin ilmu. Kegiatan belajar melibatkan isi dan proses dari satu atau beberapa ilmu sosial atau prilaku yang mempunyai hubungan dengan tema yang dipilih/dikerjakan.
c.    Menyatukan berbagai cara/metoda belajar. Kegiatan belajar ditekankan pada pengalaman konkrit yang bertolak dari minat dan kebutuhan peserta didik serta disesuaikan dengan keadaan setempat.
Pendekatan ketiga, adalah pendekatan yang dilaksanakan pada sekolah-sekolah fundamentalis. Mereka tetap mengajar berdasarkan mata-mata pelajaran dengan tekanan kepada membaca, menulis, dan memecahkan masalah-masalah matematis. Pelajaran-pelajaran lain seperti ilmu kealaman, ilmu sosial dan lain-lain, dipelajari tanpa dihubungkan dengan kebutuhan praktis pemecahan masalah dalam kehidupan.

F.    Pemilihan Disiplin Ilmu
Masalah besar yang dihadapi oleh para pengembang kurikulum subjek akademis adalah bagaimana memilih materi pelajaran dari sekian banyak disiplin ilmu yang ada. Apabila ingin memiliki penguasaan yang cukup mendalam maka jumlah disiplin ilmunya harus sedikit. Apabila hanya mempelajari sedikit disiplin ilmu maka penguasaan para siswa akan sanagt terbatas, sukar menerapkannya dalam kehidupan masyarakat secara luas. Apabila disiplin ilmunya cukup banyak, maka tahap penguasaannya akan mendangkal. Anak-anak akan tahu banyak tetapi pengetahuannya hanya sedikit-sedikit (tidak mendalam).
Ada beberapa saran untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu:
Ø  Mengusahakan adanya penguasaan yang menyeluruh (comprehensiveness) dengan menekankan pada bagaimana cara menguji kebenaran atau mendapatkan pengetahuan.
Ø  Mengutamakan kebutuhan masyarakat (social utility), memilih dan menentukan aspek-aspek dari disiplin ilmu yang sangat diperlukan dalam kehidupan masyarakat.
Ø  Menekankan pengetahuan dasar, yaitu pengetahuan-pengetahuan yang menjadi dasar (prerequisite) bagi penguasaan disiplin-disiplin ilmu yang lainnya.
G.   Bagaimana Harus Membuat Bahan Pelajaran yang Menarik Untuk Menumbuhkan Pemikiran

Kurikulum akademik telah ditutut untuk menempatkan logika dan keteraturan yang mendorong pemikiran akademik atas logika psikologik pelajar. Para akademis juga dikatakan tidak bersalah atad dua kesalahan kurikulum yaitu kesalahan isi dan kesalahan mengenaik keseluruhan (universalism). Kesalahan bahan memiliki sesuatu yang menarik seluruh gagasan tidaklah diciptakan sama dan beberapa konsep maupun generalisasi, beberapa gagasan dan hasil penyelidikan yang lalu lebih berguna dan mendalam dari pada hal lain.
Gagasan yang menjadi alat dan karya seni yang menjadi indah, apabila gagasan itu didekati melalui cara yang sesuai dalam penyelidikan dan persepsi kesalah keseluruhan tergantung pada kepercayaan bahwa beberapa daerah bahan mempunyai nilai universal, tanpa memperhatikan ciri siswa tertentu. Robet Maynar Hutchins, seorang pendidik Amerika yang terkenal ia mengatakan bahwa “pendidikan berarti pengajaran”. Pengajaran berarti ilmu pengetahuan sebagai kebenaran. Kebenaran adalah sama dimana-mana. Oleh karena itu pendidikan harus sama dimana-mana. Kurikulum dalam bahan akademik yang lebih baru menggalakkan instuisi terkaan yang tajam – sebagai alat untuk mengenali pikiran analisis dari disiplin ilmu.Program akademik yang tumbuh dalam negeri berkembang. Bahkan, program itu mungkin bertahan hidup lebih baik dari pada pemindahan secara nasional.

2 komentar:

  1. kayaknya pengartian dalam metode kurikulum subjek akademik metode nya miss interpretasi.

    Yang saya tau, metode pelajarannya exposition (pemaparan) sedangkan metode belajarnya assimilation (penerimaan), maka indikasi metode pembelajaran berpusat pada guru (teacher centered)

    BalasHapus